Waktu untuk Belajar

Menarik untuk menanggapi pertanyaan yang mampir di bagian komentar dari facebook post yang saya buat beberapa waktu lalu. Seperti apa memang pertanyaannya?

Pertanyaan yang disampaikan menjadi menarik karena disertai dengan adanya asumsi. Kurang lebih bentuknya seperti ini.

Mas kerja di Bukalapak seperti apa sih? kok Mas Agung sepertinya masih punya banyak waktu luang?

Tidak langsung saya jawab tetapi saya balik bertanya ke penanya

Tahu dari mana saya punya banyak waktu luang?

Jawaban baliknya intinya berasumsi seperti itu karena melihat saya selain kerja di Bukalapak juga memperhatikan kalau saya rutin membuat tulisan di blog ini dan juga rutin mengeluarkan video terbaru untuk proyek saya IDRails.com.

Apakah saya memang seluang itu? Tentu saja tidak.

Jawaban berikutnya yang saya berikan adalah semacam ini yang justru lebih jadi pertanyaan balik lagi.

Bagaimana kalau waktu luang saya punya adalah waktu yang saya luang-luangkan? Masih ada waktu malam hari setelah kerja dan akhir pekan.

Meluangkan Waktu

Saya percaya ungkapan tidak ada waktu yang benar adalah tidak saya prioritaskan. Tidak punya waktu buat ngeblog? tidak punya waktu buat belajar teknologi baru? Tidak diprioritaskan mungkin hehe.

Tidak bisa ngeblog karena ga ada waktu besar kemungkinannya karena kita lebih memilih waktunya buat diprioritskan untuk yang lain, misal kerja karena hal itu lebih jelas manfaatnya secara langsung buat kita, duit. Atau waktu malam hari dan akhir pekannya lebih dipilih untuk dihabiskan bersama keluarga. Totally fine.

Yang jadi masalah bagi saya pribadi adalah kalau prioritas waktunya digunakan untuk hal yang banyak ga jelasnya. Apa itu? Social media!

Entah bagaimana kita selalu punya waktu yang diprioritaskan untuk membuka sosial media. Kan aneh. Padahal manfaatnya juga ga sebanyak itu. Coba diukur berapa persen informasi yang memang benar-benar berguna yang kamu dapatkan di sosial media? Jarang sih kalau saya. Tapi teteeeeeep aja masih scrolling.

Waktu untuk Belajar

Sekarang kamu kurang lebih tahu kesibukan saya : pagi – sore kerja, malam nulis blog atau buku atau nge-screencast dan akhir pekannya juga kurang lebih sama.

Lalu belajar hal barunya kapan?

Nah ini yang memang mau saya bahas di tulisan ini. Topik inti gitu ceritanya.

Mari kita mulai dari pekerjaan saya. Saya kerja menggunakan ruby dan ruby on rails. Tiap hari mainannya itu. Pun ketika membuat screencast, materinya itu-itu juga. Terus belajar hal barunya bagaimana?

Itu dia masalahnya.

Dengan prioritas yang seperti saya punya saat ini, belajar hal baru akan menjadi hal yang hampir mustahil. Waktu di luar kerja saya gunakan untuk rekaman, hampir tidak ada sisa waktu. Hmm benarkah tidak ada waktu sisa?

Sebenarnya ada waktu sisa tapi digunakan untuk sosial media. Sudah mulai dapat ke mana arahnya?

Yap. Dimulai dengan tulisan ini saya akan memberangus waktu yang saya habiskan dengan mubazir di sosial media untuk saya konversi menjadi waktu yang saya gunakan untuk belajar hal-hal baru. Kamu seharunya juga ya, ingat berapa buku, ebook dan video tutorial yang dibeli tapi belum dipelajari?

Nih sebagian kecil dari buku yang saya punya segini dan belum ada yang kelar belajarnya. Belum video tutorialnya, 50an lebih. Bayangkan nak!

Dengan begitu apakah saya akan tidak menggunakan sosial media sama sekali? Tentu tidak. Saya masih butuh facebook untuk membangun audiens. Jadi yang saya lakukan adalah saya menggunakan facebook untuk menulis status, menge-share link dsb tetapi bagian scrolling timeline akan saya berangus.

Segala notifikasi yang ada akan saya cek sehari 2 kali saja, siang dan malam hari. Kalau untuk nulis status bisa kapan saja, toh ga memakan waktu banyak di situ. Yang jadi sumber penyakit kan yang kita baca timeline.

Menanggapi chat juga tidak akan se-strict mengecek notifikasi yang ada.

Apakah strategi ini akan berhasil? Saya sangat optimis akan berhasil.

Facebook Comments
 

Agung Setiawan

Agung Setiawan adalah software engineer di BukaLapak.com, penulis sekaligus pecinta sastra, dan pembaca buku

 
Halo, perkenalkan saya Agung Setiawan.
Saya Software Engineer di BukaLapak.
Simak pemikian saya soal dunia Software Engineering via Twitter di @agungsetiawanmu dan facebook
Blog ini saya update seminggu sekali jadi sering-sering saja mampir
Mau belajar Vim bareng saya?
Belajar ngoding dari nol menggunakan PHP

2 thoughts on “Waktu untuk Belajar

  1. “Kamu seharunya juga ya, ingat berapa buku, ebook dan video tutorial yang dibeli tapi belum dipelajari?”

    Bener banget bang, ane udah banyak banget beli course di Udemy tapi masih belum sempet buat nonton. Emang sih istilah yg lebih tepatnya bukan belum sempet, tapi yg bener belum diprioritaskan. Sama itu, belum terbiasa ajah sama adanya time table.

  2. Wah ada promo terselubung nih di kumpulan bukunya, hehehe

    Mantep mas, udah bisa bikin 2 buku.

    Btw ngeliat tumpukan bukunya saya juga teringat tumpukan buku yang belum saya baca 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *