Setup Working Space dari Masa ke Masa

Sekadar dokumentasi pribadi berupa foto-foto plus sedikit penjelasan seputar setup working space yang saya gunakan dari masa ke masa.

Sejak tahun 2020 dan pandemi covid-19 menyerang dunia tempat kita tinggal, working from home sudah menjadi hal yang umum. Karena wfh itu pula saya amati jadi banyak yang aware dengan kebutuhan meja kerja pribadi/working space yang nyaman, tentunya saya termasuk di dalamnya.

Kos Pondok Palem, Jakarta

Bisa dibilang ini adalah setup pertama saya. Sebelumnya ga pernah punya karena kalau kerja selalu di kantor dan ketika sudah sampai kosan ga ngapa-ngapain lagi yang berhubungan dengan kerjaan, baik kerjaan kantor mau pun proyek pribadi.

Ketika ngekos di sini, saya kerja di BukaLapak. Di sana kita boleh sesekali kerja remote makanya saya butuh setup buat kerja dari kosan, ya walau pun apa adanya dan ga nyaman. Yang penting bias dipakai kerja aja, gitu mikirnya waktu itu.

Saat itu pula masanya saya mulai mengerjakan proyek-proyek pribadi di mana salah satunya ada online course Ruby on Rails yang sukses menembus ratusan juta pendapatannya. Ya betul, course yang menurut saya cukup sukses itu dibuat dengan setup yang seadanya ini. Saya juga heran kalau menilik ke belakang, kok bisa! Soalnya sekarang setup-nya udah jauuuuuuh lebih bagus tapi belum nemu proyek pribadi yang cuan banyak lagi haha. Semoga sebentar lagi yess.

Kondisi kerjanya bisa dilihat seperti yang ada di gambar. Ga ada meja ga ada kursi, alias lesehan dan kebanyakan sambil tiduran. Pas ngerekam materi untuk course itu saya selalu sambil tiduran.

Monitornya saya lupa tipe apa, yang jelas LG 24″ Full HD. Eksternal keyboard belum punya.

Kos Aini, Jakarta

Pindah kos dari daerah Ragunan ke daerah Jati Padang maka berubah juga setup saya. Akhirnya ada meja! Masih belum ideal karena mejanya itu sebenarnya meja rias haha, bisa dilihat di situ ada cermin besar, tapi ya mendinglah.

Terus kursinya juga yang semacam stool gitu, ga nyaman buat kerja. Akhirnya saya beli kursi kerja di Informa, lumayan. Kursi ini masih saya pakai sampai sekarang, sebentar lagi mau ganti tapi dengan kursi ergonomis. Kalau di foto di bawah ini, kursinya yang sebelah kanan.

Pas di sini sebenarnya saya sudah beli keyboard eksternal Ducky One TKL tapi jarang saya gunakan.

Kos Artkostel, Yogyakarta

Di sini paling boring. Lesehan seperti setup pertama tapi ga ada proyek yang dihasilkan karena pada waktu itu sedang burn out. Surem lah haha.

Foto ini kalau ga salah saya ambil pas rekaman untuk materi di IDrails setelah sekian lama ga rekaman lagi, ya karena burn out tadi. Itu pun seinget saya setelah itu ga pernah rekaman lagi. Surem dibilangin masa-masa saat itu.

Rumah, Kendal

Karena burn out tadi, saya memutuskan untuk take a break dengan menjadi pengangguran dan pulang ke rumah orang tua istri di Boja, Kendal. Di sini pertama kalinya saya punya meja kerja yang sesungguhnya, ga begitu wah tapi udah oke lah. Saya beli juga meja monitor biar agak tinggian.

Oh iya hampir kelewat. Saat-saat di sini juga saya beli tatakan untuk laptop yang warnanya silver itu. Pas di sini saya mulai terbiasa menggunakan eksternal keyboard untuk ngetik-ngetik.

Selain yang udah disebut tadi, saya beli juga arm buat microphone yang saya pakai untuk rekaman. Yang murah meriah aja, maklum pengangguran kala itu hahaha.

Mejanya merek Ikea, namanya Linmonn kalau ga salah inget. Sekarang meja ini dipakai istri saya.

Rumah Yogyakarta

Di sinilah ketika covid-19 melanda dan saya mulai seneng utak-atik setup karena selain memang butuh, alhamdulillah modalnya juga ada buat upgrade.

Awal Mula

Gambar ini adalah setup sebelum covid-19. Bisa dilihat sebagian besar masih sama dengan setup sebelumnya. Lebih tertata rapi aja dengan ruangan yang lebih fresh dan di ujung ada floating shelf. Selain itu bisa dilihat di gambar kedua saya akhirnya beli alas untuk keyboard dan mouse yang lebar itu.

Ganti Arah + LED Strip

Jika sebelumnya saya kerja menghadap barat, maka saya putuskan untuk mengubah menghadap selatan. Di masa ini saya baru beli Nintendo Switch makanya ada nongol di gambar di bawah.

Di masa ini juga saya beli LED strip yang bisa dikontrol lewat hp. Warnanya bisa diubah-ubah lho.

Karena sekarang menghadap dinding, dirasa-rasa kok dindingnya kosongan ya, mari kita tambahkan sesuatu. Jadilah seperti yang ada di gambar bawah ini. Saya tambahin 3 poster gundam!

Oh ya buat yang nanya ke mana monitornya, monitornya rusak!

Beli Monitor Eksternal Lagi

Karena monitor rusak panelnya dan udah pasti mending beli baru, yaudah akhirnya setelah beberapa bulan ga pakai monitor eksternal, saya putuskan untuk beli monitor lagi. Yang murah aja dan yang Full HD. Beli di harga 1.8jt waktu itu. Sekarang kalau dicek di Tokopedia harganya 2.2jt-2.5jt. Gila, ga cuma GPU yang naik, monitor juga ikutan.

Posisinya saya taruh di tengah terus Macbook di samping, niatnya biar yang jadi display utama itu eksternal monitornya.

Eksplor liat-liat Instagram kok banyak yang pakai stand monitor model gini (lihat gambar bawah), jadinya beli juga karena terlihat lebih nice dan jadi lebih lega. Keyboard juga baru, Keychron K2 dengan brown switch. Yang lama saya jual.

Soundbar

Sekian lama selalu pakai headphone untuk mendengarkan musik mau pun kala main game, pengen juga experience-nya langsung dengerin lewat speaker. Coba nyari-nyari yang murah dan yang bentuknya unik : soundbar. Belum pernah punya juga jadi sekalian cobain kayak apa sih rasanya.

Good enough untuk suaranya tapi secara tampilan kurang pas kalau ditaruh di meja kerja, lebih cocok ditaruhnya buat dipasang bareng televisi. Ya nikmati dulu apa yang ada.

Macbook Jadi Display Utama

Di atas saya bilang kalau niatnya adalah monitor eksternal jadi display utama. Tapiiii karena resolusinya cuma Full HD maka tampilannya cukup burik alias ga bisa mengimbangi kualitas retina display-nya Macbook Pro. Agak pedes-pedes giman gitu lama-lama haha. Akhirnya di sini monitor eksternal saya agak pinggirkan dan Macbook Pro ada di tengah, jadi layar Macbook yang jadi pemeran utama.

Perhatikan letak soundbar yang awkward.

Rak dan Rak Buku

Kali ini mejanya saya geser sedikit ke kiri terus sisi kanan saya taruh rak buku terus yang sebelah kiri dikasih rak Lerberg punya Ikea. Kelihatan lebih hidup rasanya, tapi berasa penuh ya.

Kawat Ram

Pengen beli Ikea Skadis tapi kok mahal ya haha, akhirnya cari alternatifnya dengan pakai kawat ram. Ga seindah Skadis memang, tapi good enough-lah! Sekali lagi, pakai yang ada aja dulu.

Single Monitor + Tanaman + Xbox Series S

Di masa ini saya sudah memutuskan untuk pakai single monitor aja dan pakainya yang eksternal monitor. Kualitasnya memang cukup burik karena Full HD seperti yang sudah saya jelaskan tadi, tapi saya ingin membiasakan diri kerja pakai monitor yang luas. Setelah dipaksakan dan dibiasakan ternyata jadi nyaman juga dan akhirnya sekarang saya ga bisa lagi kalau harus kerja di layar laptop yang kecil gitu haha, eksternal monitor FTW!

Di waktu itu juga saya coba eksperimen dengan naruh beberapa tanaman di ruang kerja. Terlihat hijau kan!

Lihat box putih-putih di samping monitor?

Itu Xbox Series S yang saya beli karena penasaran pengen punya Xbox. Kebetulan harga PS5 masih tinggi dan Series S ini harganya terjangkau, terlebih kalau di Xbox kita bisa langganan Gamepass dengan harga murah terus bisa main ratusan game. Mirip-mirip Netflix gitu lah, kita bayar tiap bulan dan bisa nonton banyak film mau pun series.

Mouse Pad Baru + Macbook Vertical Stand

Seperti biasa, karena lihat-lihat Instagram jadi pengen beli. Kali ini alas untuk keyboard dan mouse. Bahannya sebutannya apa ga tau pastinya, cuma kalau nyari di Tokopedia pakai aja keyword “mousepad felt”. Ini versi murah sih, 70-100rban, tanpa merek jelas. Kalau yang bagus bermerek itu kalau ga salah 500ribuan dan harus import.

Kalau kamu jeli, di sebelah kiri itu ada Macbook yang posisinya berdiri. Nah saya beli vertical stand biar lebih hemat space.

Oh ya lihat kursi putih yang kayak di kafe-kafe? Saya sedang nyobain pakai kursi itu, enak atau enggak kalau dipakai lama. Sudah barang tentu ga enak!

Speaker + Ikea Skadis

Akhirnyaaaaa kena racun + punya dana buat beli speaker yang proper! Setelah lihat-lihat review dan pertimbangan bentuk fisinya, saya pilih Edifier R1700BTS yang bisa konek lewat bluetooth mau pun kabel.

Ada tambahan juga Ikea Skadis, finally!

Asyiknya lagi ini ga beli, alias dapat gratisan karena dikasih temen, alhamdulillah.

Game console saya pindah ke rak biar terlihat nice aja dan meja kerja jadi lebih longgar.

Meja Monitor

Lagi-lagi Instagram, akhirnya nyari-nyari meja monitor. Ini buatan lokal btw jadi tanpa merek. Kalau yg bermerek adanya dari luar, udah mahal + mesti import!

Sekarang speakernya bisa nangkring sehingga suaranya bisa langsung lurus ke telinga saya, lebih sedap sensasinya.

Mac Mini + Screen Bar

Cerita soal kenapa ganti Mac mini bisa dibaca di https://agung-setiawan.com/macbook-pro-atau-mac-mini-kebimbangan-yang-mengasyikkan/. Saya ceritakan cukup panjang kenapa lebih prefer Mac mini padahal selama ini selama 6 tahun pakainya Macbook Pro. Intinya : cari yang murah aja sih haha.

Lihat lampu putih panjang yang ada di atas monitor?

Nah itu yang namanya screen bar. Gunanya buat menerangi sekitaran monitor + biar ga silau liat monitor kalau kerjanya gelap-gelapan. Lho kok bisa? Pernah kerja menatap monitor di ruang yang gelap? Nah silau kan. Cahaya yang dikeluarkan screen bar ini “melawan” cahaya yang keluar dari monitor, jadinya kalau kerja pas gelap-gelapan ga akan silau. Ga percaya? Cobain deh.

Sama seperti Ikea Skadis, screen bar ini juga dikasih temen. Temen yang beda tapinya. Enaknya punya banyak temen yang baik-baik.

Setup Terkini

Kurang lebih setup saya yang sekarang adalah perpaduan antara 2 gambar terakhir dengan sedikit beda di kursi. Baru datang kemarin banget dan saya rakit semalam, kursi ergonomis Pexio Jervis, alhamdulillah bisa beli. Dipakai nyaman banget, jauh kalau dibanding kursi kerja biasa. Mungkin nanti akan saya bikin review-nya.

Setup Masa Depan

Kita sebagai manusia hendaknya memiliki pola pikir yang senantiasa selalu berkembang/bertumbuh atawa bahasa kerennya growth mindset. Kalau ga berkembang ilmu dan skill-nya ya keinginannya yang nambah-nambah terus hahaha, becanda. Intinya sih dari setup yang sudah saya punya ini ada beberapa yang pengen saya ubah atau tambah.

Yang pertama dan mungkin yang terdekat bisa dicapai adalah warna tembok di mana saya menghadap. Yang sekarang warnanya kuning-kuning putih krem gitu, mau saya ganti dengan yang warna gelap seperti ini.

Selanjutnya ada monitor yang pengen saya ganti. Sudah saya singgung di atas ya kalau sekarang itu saya pakai monitor 24″ dengan resolusi Full HD yang mana itu kalau dipadukan dengan Macbook/Mac mini kerasa banget kurangnya, burik-burik gimana gitu karena sudah terbiasa lihat layar retina. Rencananya bakal saya ganti dengan monitor 27″ berresolusi 4k. Lagi nyari-nyari yang tepat, ada beberapa masukan dari temen-temen di sini.

Ada lagi? tentu saja!

Meja yang sekarang secara lebar sudah terasa pas, tapi untuk panjang belum. Atasnya (daun meja) mau saya ganti dengan yang panjangnya 170cm dan bahannya jati FJL seperti ini. Lalu untuk bagian kaki-kakinya yang elektrik bisa naik turun kayak di series Korea Startup itu lho.

Sama satu lagi, floating shelf-nya pengen beli yang baru terus dipasang di dinding di atas monitor buat majang buku, kamera, lensa dll. Teurs papan Ikea Skadis dipindah ke samping.

Kalau setup working space mu gimana? Kasih unjuk dong.

Facebook Comments
 

Agung Setiawan

Halo, perkenalkan saya Agung Setiawan. Seorang software developer, penulis buku, blogger, gunpla builder, tech educator dan yang paling penting console gamer.

 
Halo, perkenalkan saya Agung Setiawan.
Seorang software developer, penulis buku, blogger, gunpla builder, tech educator dan yang paling penting console gamer.
Selain di blog ini saya cukp aktif juga main di Twitter @agungsetiawanmu dan Facebook serta Instagram.
Mau belajar programming bareng? Cek YouTube channel saya.
Mau belajar Vim bareng saya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *