Pergi dari Jakarta, But at What Cost?

Saya masih ingat dan tidak akan lupa. Kala itu tahun 2018 saat saya masih bekerja di e-commerce, ada tawaran untuk bantu-bantu di tim baru hasil acquihire yang lokasinya berada di kota pelajar, Yogyakarta. Implikasi dari tawaran ini ada beberapa, salah satunya  berarti saya bisa pindah tim yang mana merupakan udara segar karena pada waktu itu saya sudah jenuh di tim saya. Dan yang kedua artinya adalah saya dan keluarga (istri, belum ada anak saat itu) bisa relokasi keluar dari Jakarta, sesuatu yang saya impikan dari 2017 karena sudah muak dengan terlalu ramainya ibukota. “Kerja di Jogja gaji Jakarta” adalah mimpi beberapa netizen yang budiman, dan ya walau pindah ke Yogyakarta gaji saya tetap ukuran Jakarta.

Pindah ke Yogyakarta cukup me-refresh saya dari pusingnya kehidupan. Saya tinggal di daerah Babarsari dan Seturan yang begitu ramai tapi tidak sumpek seperti Jakarta, tidak ada itu yang namanya macet-macet. Kalau pun ada, macetnya ga seberapa dan bagi saya itu ga bisa dibilang macet karena bandingannya dengan menghadapi padatnya lalu lintas selama empat tahun di Jakarta haha. Di sana juga banyak tempat makan dan berbagai toko keperluan hidup yang sangat mudah dijangkau. Lalu jalan-jalan keliling kota bak turis tiap akhir pekan ke spot-spot wisata menambah romantisnya Yogya (korban romantisasi).

Sayangnya hal itu tidak bertahan lama. Meskipun keadaannya jauh lebih baik ketika tinggal di Yogya, untuk urusan pekerjaan saya sudah terlanjur burnout. Tinggal nunggu waktu yang pas saja sebenarnya untuk mengajukan pengunduran diri. Karena waktu itu istri saya sedang hamil maka momen yang pas ya tentu saja setelah lahiran. Sekitar kurang lebih tujuh bulan berdiam di Yogya, saya memutuskan untuk resign setelah bekerja selama tiga tahun, durasi terlama saya bekerja untuk suatu perusahaan sampai saat ini.

Keluar Ibukota, Sebuah Pertanyaan

Ketika awal-awal minggat dari Jakarta saya mempertanyakan keputusan yang saya ambil, apakah itu suatu yang tepat atau justru kebalikannya. Pertanyaan itu datang karena sebagai orang yang tinggal empat tahun di Jakarta dan “terdoktrin” kalau mau karir bagus sebagai software developer (baca : pegawai kantoran swasta) dan gajinya besar ya bagusnya tinggal di Jakarta dan sekitarnya karena kesempatan di sana lebih besar karena kantor-kantor dan orang-orang jago terkonsentrasi di sana. Dengan pindah ke Yogya saya sempat merasa sepertinya ke depannya akan ga bagus karena pilihan tempat bekerja dengan standar gaji Jakarta dan perusahaannya yang product based hampir tidak ada (sebenarnya ada tapi sangat sedikit pilihannya). Maka ketika saya resign itu saya putuskan untuk tidak bekerja, gabungan antara burnout dan bingung mau kerja di mana di Yogya yang perusahaan berbasis IT dan gajinya paling enggak mendekati gaji di perusahaan sebelumnya.

Kembali ke Ibukota, Yakin?

Setelah dirasa cukup hidup sebagai pengangguran (total sembilan bulan 😅 ) saya memutuskan untuk mencari pekerjaan lagi. Prioritas utama saat itu adalah perusahaan luar negeri baik yang onsite yang memerlukan saya pindah ke negara di mana perusahaan itu berada atau pun yang remote. Apa  mau dikata, setelah mencoba beberapa kali kebanyakan CV pun tidak lolos, begitu ada yang lanjut ke tahap interview, eh gagal di situ. Pusing-pusing ga nemu akhirnya saya coba beberapa perusahaan lokal yang kantornya di mana lagi kalau bukan di Jakarta.

Perusahaan pertama adalah G. Gampang aja milihnya karena gajinya paling gede, engineering-nya terlihat keren, dan beberapa teman saya ada yang kerja di situ. Semuanya terlihat cukup lancar sampai ketika ada pengumuman lewat email mengenai hasil interview di kantor G seminggu sebelumnya yang ternyata tidak lolos. Yaudah, move on, cari yang lain lagi.

Setelahnya, saya langsung apply beberapa perusahaan sekaligus : M, Q, R dan B. M proses interview-nya dilakukan secara online dan hasilnya cepet banget keluar. Hari Kamis interview, Jumatnya seinget saya udah ada offering lisan. Secara angka oke tapi saya ga sreg dengan cara recruiter yang terkesan mengejar-ngejar. Terus ada beberapa peraturan yang kurang cocok dan dipikir-pikir lagi lokasi kantornya ada di Sudirman, heeeuuu macet. Hold dulu.

Selanjutnya Q dan B, interview-nya hampir berdekatan dan dilakukan di Jakarta. Beberapa hari kemudian dikabari kalau lolos keduanya untuk tahap berikutnya. Karena saya sudah pulang ke rumah maka yang selanjutnya dilakukan secara online. B ga lolos, yaudah no worries yang ini karena dari awal juga iseng karena tech stack-nya saya tidak familiar dan kantornya ternyata di tengah Jakarta pakai banget. Q lolos lagi dan dapat offering, angkanya agak di bawah ekspektasi tapi sebenarnya sudah cukup bagus, nego, oke naik lumayan. Hold lagi.

Beberapa hari sebelum mendapatkan offering dari Q saya sudah memutuskan untuk tidak mengambil offering dari M karena kata hati saya sangat tidak sreg. Istri alhamdulillah menerima keputusan saya walau pun itu berarti penghasilan keluarga kami masih Rp 0,- padahal kesempatan sudah ada di depan mata dengan angka yang cukup besar. Kenapa saya berani? asli karena ga sreg dan saya yakin pasti ada yang lainnya.

Terus Q gimana? Pada saat saya memegang tawaran dari Q, tidak lama kemudian ada tawaran dari R yang nilainya kurang lebih hanya setengah dari yang ditawarkan Q. Secara matematis tentu ambil Q dong, ya kan? Nyatanya enggak. Karena lokasi Q ada di Kuningan (heeuuu macet) sedangkan R ada di Yogyakarta, dan setelah ditimbang-timbang lagi ternyata kami sudah tidak mau tinggal di Jakarta maka pilihan jatuh ke R terlepas gaji yang saya sendiri tahu termasuknya underpaid karena saya sudah tahu range gaji yang pantas itu berapa, terlebih saya sudah dapat tawaran sebelumnya dari M dan Q.

Berat? Lumayan. Sampai mules mikirnya, beneran hahaha.

Pergi dari Jakarta, But at What Cost?

Kesimpulan dari cerita saya di atas, biaya yang harus saya keluarkan demi meninggalkan Jakarta untuk kasus saya adalah saya harus terima digaji hanya setengah dari angka pasaran seharusnya yang saya dapatkan. Biaya kedua adalah mesti merelakan kalau karirnya mungkin tidak akan semoncer teman-teman yang tinggal di Jakarta (kalau yang ini jujur saya tidak peduli, buat apa jabatan, yang penting uang 😆 ), dan cost yang ketiga adalah pilihan atau opsi perusahaan bagus yang tidak sebanyak di ujung barat sana.

Oh ya ada satu lagi. Kalau beli barang di Tokopedia paketnya baru nyampai setelah 2 hari. Kalau dulu paling lama cuma sehari dan bahkan bisa same day kalau pakai Grab atau Gojek. Karena lagi-lagi, yang jualan pada ngumpul di sana.

Tidak Akan Kembali ke Ibukota, Tidak Ada Lagi Pertanyaan

Kalau dulu saya mempertanyakan keputusan saya keluar dari Jakarta apakah sebuah pilihan yang bagus atau tidak untuk karir, maka setelah beberapa lama tinggal di Yogyakarta lagi dengan sendirinya pertanyaan itu terjawab. Jawabanya adalah : iya, yang saya ambil adalah keputusan yang sangat amat tepat sekali. Saya lebih peduli dengan kebahagiaan keluarga saya dengan tinggal di Yogyakarta atau di Semarang dibanding “menjual” hidup saya demi karir dan bayaran di Jakarta. Mungkin perubahaan pemikiran seperti itu otomatis terjadi karena saya sudah menjadi seorang ayah di mana cara berpikirnya sudah berbeda dengan fase hidup sebelumnya.

Remote Work Bukan Lagi Masa Depan tapi Kenyataan Sekarang

Tinggal jauh dari ibukota berarti opsi perusahaan tempat kerja sebagai software developer otomatis berkurang karena kebanyakan tumplek blek di sana. Akan tetapi, saya tidak khawatir dengan itu karena saya punya beberapa teman yang kerjanya remote baik untuk perusahaan lokal mau pun perusahaan luar dan saya tahu job demand-nya tinggi. Berteman dengan orang-orang seperti ini membuka mata saya kalau kerja sebagai software developer dan bayaran mau tinggi tidak harus ke Jakarta (bahkan bayaran bisa lebih tinggi), bahkan tidak perlu ke kantor alias kerjanya di rumah saja. Bahwa opsi seperti itu ada dan bisa diambil benar-benar membuka pintu kemungkinan ke arah lain. Tampaknya hal yang secuil tapi sangat berpengaruh bagi saya.

Baru kerja dua bulan di R kemudian pandemi datang dan work from home diterapkan. Terlepas dari suasana pandemi yang tidak mengenakkan bagi kita semua, wfh atau kerja remote adalah hal yang sudah saya idam-idamkan dari dulu. Kemudian ternyata bisa kerja remote dari rumah dan itu ternyata tidak mengurangi produktivitas dalam bekerja, lalu merasakan betapa nikmatnya tidak perlu melakukan perjalanan naik kendaraan hanya untuk datang ke kantor dan duduk berkumpul dengan yang lain adalah sebuah kenikmatan yang cocok dengan diri saya (saya tahu ada yang prefer datang ke kantor karena suka berkumpul dengan orang).

Pandemi dan wfh membuat saya sadar dan makin yakin kalau kerja remote adalah jalan ninjaku. Perusahaan yang tidak menawarkan kerja remote tidak akan saya sambangi, perusahaan yang menawarkan kerja remote hanya saat status pandemi maka boleh dicoba tapi dengan catatan kalau minta karyawannya ngantor saat pandemi sudah selesai (yang itu ntah kapan, kita semua berharap semoga secepatnya) maka lebih baik minggat. Saya punya teman yang kerja di unicorn, dia tinggal di Yogyakarta juga sekarang karena wfh, yang dengan mantapnya bilang kalau perusahaannya meminta dia balik ke Jakarta maka dia sudah barang tentu akan resign dan mending cari yang lain.

 

Facebook Comments
 

Agung Setiawan

Halo, perkenalkan saya Agung Setiawan. Seorang software developer, penulis buku, blogger, gunpla builder, tech educator dan yang paling penting console gamer.

 
Halo, perkenalkan saya Agung Setiawan.
Seorang software developer, penulis buku, blogger, gunpla builder, tech educator dan yang paling penting console gamer.
Selain di blog ini saya cukp aktif juga main di Twitter @agungsetiawanmu dan Facebook serta Instagram.
Mau belajar programming bareng? Cek YouTube channel saya.
Mau belajar Vim bareng saya?

One thought on “Pergi dari Jakarta, But at What Cost?

  1. Sebelum melihat langsung kehidupan jakarta, dulu sempat ada keinginan mas utk mengadu nasib di jakarta, secara kasat mata banyak perusahaan IT yg bisa dicoba, apalagi dgn gaji yg cukup menggiurkan dan melihat beberapa teman yg udh sukses disana..

    Tapi, stelah beberapa kali singgah di jakarta, dan sempat jg nginap di bekasi, menyaksikan lngsung kehidupan org” disana, niat saya seketika pudar mas, melihat kehidupan yg sumpek, macet, padat dgn segala aktivitas yg seakan gk berhenti..

    Saya pikir, lbih baik saya tetap tinggal di daerah, walaupun mungkin gaji lbih kecil, tapi saya mungkin bisa punya kualitas hidup yg lbih baik, lingkungan yg lbih bersahabat, dan mungkin waktu yg lbih banyak utk keluarga atau mungkin utk mengerjakan kerjaan sampingan..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *