Oke Untukmu Oke Untukku, Jangan Berantem Ya

Saya kasih pertanyaan ya. Bagus mana antara entrepreneur dengan pekerja kantoran seperti saya? Bagus mana antara pekerja remote yang bisa kerja dari rumah dengan pekerja kantoran seperti penulis blog ini yang tidak jarang menjadi bagian dari kemacetan di Jakarta? Bagus mana antara pekerja yang kerja sekadar untuk cari uang buat hidup dibandingkan dengan mereka yang bekerja untuk memenuhi hasrat passion dan juga memberikan impact ke banyak orang?

Jawabannya, kalau kita gunakan common sense kita dengan baik akan menghasilkan jawaban yang diplomatis. Yap, jawabannya adalah bagus semua. Tidak akan ada jawaban mutlak jika kita berpikirnya tidak bertumpu pada cara pandang atau pun selera kita.

Ambil contoh gini. Jika kamu pekerja remote, saya yakin jika melihatnya hanya dari sudut pandang kamu itu, yang memandang bahwa pekerjaan terbaik adalah kerja remote, maka gambaran kerja kantoran apalagi di Jakarta adalah hal yang bisa disandingkan dengan masuk neraka.

Kadang yang jadi masalah adalah kalau seseorang menganggap satu hal itu yang paling bagus hanya karena dia dalam kondisi yang seperti itu. Contoh, pernah lihat entrepreneur wanna be atau yang beneran nyebar status di facebook yang seakan-akan mengatakan bahwa semua orang harus jadi pengusaha kayak dia? dan bahwa kerja sebagai karyawan adalah sesuatu yang tercela?

Pernah baca status pekerja remote yang sangat membanggakan kerja remote dan seolah-olah kerja remote itu adalah pekerjaan yang sudah mencapai tahap nirvana sehingga semua orang harus gitu juga?

ATAU

Sering lihat saya berisik soal Ruby dan Rails dan juga Vim yang lagi-lagi seolah-olah semua orang harus pakai tools yang saya pakai?

Kalau pernah maka ada 2 kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah memang si penyampai pesan baik secara implisit mau eksplisit menyatakan demikian. Bahwa gaya hidup, status atau apapun lah itu yang melekat padanya harus juga diterapkan kepada orang lain karena baginya itu adalah yang paling top markotop.

Kemungkinan kedua apa?

Kemungkinan kedua adalah kita yang menganggap si penyampai pesan menginginkan dunia ini harus sebentuk dengan dia. Sebenarnya enggak, hanya pikiran itu yang ada di otak kita.

Terus bagaimana?

Satu, kalau kita diposisi menyampaikan sesuatu karena kita suka/puas/marem maka sebaiknya sampaikan dengan cara yang elegan tanpa merendahkan sisi yang lain. Ini pelajaran juga buat saya kalau berisik soal Ruby untuk tidak menjelek-jelekkan PHP #eh.

Dua, masih soal penyampaian pesan. Kurang-kurangin penyampaian yang baik secara eksplisit maupun implisit mengatakan kalau kamu, ya kamu, harus seperti saya, tidak boleh tidak, pokoknya harus karena ini yang paling top markotop dan punyamu itu ga bagus.

Tiga, kalau ada orang yang gitu, take it easy aja deh. Dia lagi menyampaikan pendapat pribadi yang didapat dari pengalaman pribadi. Kalau dia gembribik semua orang harus seperti dia, ya itu tadi, diemin aja sih kalau saya hahaha.

Facebook Comments
 

Agung Setiawan

Agung Setiawan adalah software engineer di BukaLapak.com, penulis sekaligus pecinta sastra, dan pembaca buku

 
Halo, perkenalkan saya Agung Setiawan.
Saya Software Engineer di BukaLapak.
Simak pemikian saya soal dunia Software Engineering via Twitter di @agungsetiawanmu dan facebook
Blog ini saya update seminggu sekali jadi sering-sering saja mampir
Mau belajar Vim bareng saya?
Belajar ngoding dari nol menggunakan PHP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *