Nyari Kosan di Jakarta vs Jogjakarta

Sekitar satu tahun yang lalu saya pindah dari Jakarta ke Jogjakarta, ceritanya kantor tempat kerja waktu itu ada buka cabang. Jauh hari ketika ada wacana buka kantor baru ini, saya sudah minat banget (baca : jenuh dengan pekerjaan dan Jakarta). Alhamdulillah gayung bersambut. Mengetahui saya minat pindah, atasan ngajak ngobrol soal ide saya diminta untuk mentoring/bantu-bantu tim di Jogja supaya bisa cepat adaptasi dengan gaya Bukalapak.

Pindah kota == pindah kos-kosan

Sekitar dua tahun yang lalu, sama di bulan September, adalah masa-masanya juga saya mencari kosan baru. Yang ini ceritanya karena istri mulai ikut tinggal di Jakarta jadi ga mungkin lagi tinggal di kos-kosan dengan fasilitas ala bujangan yang kurang nyaman.

Pengalaman nyari kosan di kedua kota ini dengan status suami-istri memiliki kesan yang mirip tapi ada bedanya juga.

Jakarta

Kosan nyaman di Jakarta Selatan untuk suami-istri menurut standar kami tidak bisa didapatkan dengan mudah dengan harga di bawah 3juta. Pada awalnya, kami memasang harga maksimal 2juta/bulan.

Nyari berbagai opsi dengan bantuan google, web/aplikasi mamikos dan termasuk nanya banyak temen. Sangat mudah mencari kosan di Jakarta untuk suami-istri karena di kota ini sudah umum kosan-kosan yang penghuninya berbeda jenis kelamin. Lain cerita di kota yang tujuan utama kos-kosan didirikan adalah untuk menyediakan tempat tinggal bagi pelajar.

Bagian paling seru adalah ketika mendatangi kos-kosan untuk melihat langsung keadaannya. Dengan harga perkiraan yang saya sebut di atas, tidak ada kosan yang berhasil nge-klik di hati kami. Tentu bikin frustasi, nyari muter-muter, panas, capek, hasilnya masih saja nihil. Pas nemu yang cukup cocok, harganya pasti di atas yang telah kami tentukan.

Setelah cukup lama nyari dan masih ga nemu, kami putuskan untuk menaikkan budget. Mulai lah nemu beberapa yang cocok hingga akhirnya dapat di daerah Karang Pola, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Lokasinya oke banget di dalam perumahan, selain itu masih deket dengan Kemang Timur, letak kantor.

Jogjakarta

Satu kata : susah nyari kosan suami-istri!

Awal kepindahan kami sebenarnya pihak kantor sudah menyediakan tempat untuk nginep selama 1 bulan. Tapiiii, begitu sampai di Jogja dan meluncur ke penginapan yang kami temukan adalah tempatnya tidak cocok menurut standar kami dan dari segi harga kemahalan. Untungnya adalah tempat tersebut bentuknya hotel yang bisa disewa bulanan dan pihak kantor belum membayar karena pakai model reimbursement. Dan karena hotel berarti bisa dong nginep permalam aja. Yaudah kami putuskan untuk menginap semalam itu saja dan malam itu juga mulai buka google dan telpon sana-sini untuk mencari kos-kosan.

Saat itu hari Minggu pagi, saya masih ingat. Kondisi saya belum mandi, istri cuma sikat gigian. Kami langsung meluncur muter-muter mencari berbagai opsi. Motor saat itu sudah ada di Jogja karena 2-3 hari sebelum keberangkatan kami ke Jogja, motor sudah saya kirimkan lewat kereta api.

Satu hal yang saya dapatkan adalah, nyari kosan tidak pernah mudah dalam artian nyari 1-2 tempat langsung nemu yang cocok. Selalu harus muter-muter terlebih dahulu dan selau diisi dengan kekecawan terlebih dulu hahaha.

Yang paling kentara bedanya dengan nyari kosan di Jakarta adalah kosan campur di kota ini cukup susah ditemukan. Kalau di Jakarta kendala susah nyari yang cocok adalah karena masalah harga, di Jogja kendala susahnya karena kosan campur jumlahnya tidak banyak, at least itu yang saya alami.

Selama masa pencarian itu kami beberapa kali nemu yang cocok atau potensial untuk cocok hanya untuk kemudian dikecewakan karena ternyata kosannya hanya untuk wanita atau pria lol.

Kembali rasa panas, capek dan frustasi menghinggapi. Apalagi istri saat itu sedang hamil 6-7 bulan. Kasian banget rasanya masih harus menemani capek-capekan dan panas-panasan muter Jogja naik sepeda motor untuk nyari kosan :’)

Karena setres dan capek, kami berhenti makan bubur ayam dulu dan mampir toko gundam buat melihat-lihat apakah model kit yang saya incar ada di sana. Ternyata MG Sazabi ada! Semangat naik lagi wkwk dan bilang ke istri kalau sudah nemu kosan kita balik ke sini lagi ya buat beli wkwkwk.

Saya tidak ingat daerah mana saja yang kami sambangi. Yang paling ingat cuma daerah-daerah di sekitaran selokan mataram dan yang pada akhirnya membawa kami ke Babarsari. Di sini kami nemu satu yang cukup potensial untuk kami jadikan tempat tinggal. Kami cek kamar, hmm cocok, ada kamar mandi, ac, tivi kabel, internet, parkiran luas, jam malam bebas dan pemandangan ke luar kamar lewat jendela yang bisa dibuka == ada sinar matahari langsung.

Saat itu belum memutuskan tapi karena potensial jadi kami minta nomor hape penjaga di situ. Karena sudah sore waktu itu, dan perut sudah lapar lagi, dan kebetulan kok nemu SS, jadi mampir dulu buat makan lagi. Kalau makan yang pertama sambil ditemani rasa yang belum lega karena belum nemu kosan, makan yang kedua ini cukup selow karena sudah nemu yang potensial tadi. Saat makan sambil ngobrol akhirnya ya sudah diputuskan kami pilih kosan yang tadi.

Di jalan pulang ke hotel kami mampir ke toko gundam untuk meminang si MG Sazabi wkkkk. Malamnya nyari grabcar/gocar untuk pindahan. Istri dan barang-barang naik mobil sedangkan saya mengikuti naik motor di belakang.

Facebook Comments
 

Agung Setiawan

Agung Setiawan adalah software engineer di BukaLapak.com, penulis sekaligus pecinta sastra, dan pembaca buku

 
Halo, perkenalkan saya Agung Setiawan.
Seorang Software Engineer di BukaLapak, penulis buku, blogger, gunpla builder, tech educator.
Simak pemikiran saya soal dunia Software Engineering via Twitter di @agungsetiawanmu dan facebook
Mau belajar Vim bareng saya?
Belajar ngoding dari nol menggunakan PHP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *