FOMO, JOMO and About Leaving Facebook

FOMO (fear of missing out), istilah yang diberikan untuk kondisi di mana kita terus-terusan ngecek sosial media karena merasa takut kehilangan atau ketinggalan informasi. Fenomena ini sudah jamak terjadi. Kamu merasa seperti itu juga?

Padahal kalau kita benar-benar audit, misal dengan nge-record seberapa lama kita buka sosial media dalam sehari dan seberapa besar dapat informasi bermanfaatnya, saya rasa perbandingannya akan sangat jauh. Alih-alih nemu hal-hal yang bermanfaat, pengalaman saya malah banyak nemu sepetnya.

Saya sangat yakin, kalau tidak mainan sosial media, khususnya facebook, tidak akan membuat saya menjadi golongan orang-orang yang merugi. Saya justru merasa sebaliknya, hidup jadi lebih tenang dan bisa lebih bersyukur dan menikmati indahnya hidup.

Bukan tanpa alasan saya ngomong seperti itu. Beberapa waktu yang lalu saya memutuskan berhenti fb-an selama satu minggu dengan pancingan akan menghadiahi diri sendiri buku jika sukses. Berhasil, dan saya merasa kebisingan di sosial media, perasaan anxiety setiap lihat postingan orang lain sirna. Hidup jadi lebih tenang, slow kaya di pulau, santai kaya di pantai. Di situ istilah JOMO muncul, joy of missing out, perasaan bahagia karena tidak terbebani informasi-informasi yang sebenarnya tidak berfaedah.

Sesudah itu, saya balik fb-an lagi. Dan terjadi lagi. Perasaan overwhelmed, anxiety muncul kembali.

Di satu sisi saya masih membutuhkan facebook untuk personal branding dan juga branding IDRails, tempat belajar software development dengan media screencast/video tutorial. Di sisi lain, berhenti mainan fb adalah solusi.

Untuk saat ini, cara yang saya tempuh adalah dengan membatasi mau berapa lama tidak buka fb dan menentukan hadiah apa yang akan saya berikan buat diri sendiri jika berhasil berkomitmen.

Setelah baca buku paling mutakhir yang saya baca tahun ini, judulnya Atomic Habit yang ditulis James Clear, saya jadi tahu kalau ingin menghilangkan kebiasaan buruk harus dimulai dengan pelan-pelan dan dilakukan dengan cara yang memuaskan.

Cara pelan-pelan dibutuhkan biar kita tidak kaget, dan cara yang memuaskan diperlukan biar kita merasa achieve sesuatu sehingga dengan adanya perasaan achieve itu membuat kita ingin mengulanginya. Contohnya diet fb selama 1 minggu yang saya lakukan. Waktu 1 minggu tidak membuat kaget dan hadiah buku membuat saya merasa hebat, ada sesuatu hasil yang dicapai. Dibandingkan dengan perasaan berhasil tidak melakukan sesuatu (dalam hal ini tidak buka fb selama 1 minggu), perasaan berhasil mendapatkan hadiah karena diet fb lebih membuat puas dan jadi ingin mengulanginya.

Hari ini, adalah hari pertama saya memulai diet fb lagi. Kali ini saya pasang jangka waktu 2 minggu. Dan hadiahnya juga asoy, langganan GoLand IDE biar belajar Go lang niat to the max!

Facebook Comments
 

Agung Setiawan

Agung Setiawan adalah software engineer di BukaLapak.com, penulis sekaligus pecinta sastra, dan pembaca buku

 
Halo, perkenalkan saya Agung Setiawan.
Saya Software Engineer di BukaLapak.
Simak pemikian saya soal dunia Software Engineering via Twitter di @agungsetiawanmu dan facebook
Blog ini saya update seminggu sekali jadi sering-sering saja mampir
Mau belajar Vim bareng saya?
Belajar ngoding dari nol menggunakan PHP

2 thoughts on “FOMO, JOMO and About Leaving Facebook

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *