Dalam Proses Belajar Vim

Semenjak pindah haluan dari seorang .NET programmer menjadi Ruby on Rails programmer, maka satu hal yang pasti saya tinggalkan adalah tools maha hebat yang bernama Visual Studio. Apalah artinya seorang .NET programmer tanpa Visual Studio dan apalah yang bisa dilakukan seorang mantan .NET programmer ketika harus ngoding hanya menggunakan text editor.

Walaupun saya tahu mayoritas programmer yang bekerja menggunakan bahasa scripting memakai text editor yang bernama Sublime Text atau pun yang lainnya semisal Atom dan juga yang bikin gila, Vim ,tetapi rasanya diri ini masih belum yakin akan ngoding hanya menggunakan text editor alih-alih sebuah IDE.

Dan meskipun saya sudah tahu kalau nanti di Ruby bakal menggunakan text editor saja, saya masih ngarep ada harapan lain. Dalam masa awal di saat ingin belajar Ruby on Rails, saya mengajukan pertanyaan ke seorang teman yang sudah berpengalaman sebagai Rails developer, pertanyaan retoris sih sebenarnya.

Saya : Eh Yan, kowe nek ngoding rails nganggone opo? (eh Yan, kamu kalau ngoding rails pakai apa?)
Teman : Sublime Text Gung
Saya : Tok? (Itu aja?)
Teman : Iyo, yo paling karo git terus terminal (Iya, ya paling sama git dan terminal)
Saya : *glek

Obrolan ini jika diteruskan tidak akan nyambung karena saya mencari kenyamanan yang ada di sebuah IDE sedangkan teman saya tidak mengenal kenyamanan itu. Sebaliknya, dia mengenal kesederhanaan ngoding dengan bermodal text editor sedangkan saya tidak.

Terus bagaimana kelanjutannya?. Ya mau tidak mau saya akhirnya menggunakan text editor juga dan pilihannya jatuh ke Sublime Text. Kenapa Sublime?, karena sebagian besar rekan di kantor menggunakan itu dan resource di internet juga banyak jadi bisa mencari tahu cara kerja menggunakan Sublime Text supaya bisa bekerja dengan sangkil dan mangkus. Walapun memang saya akui setelah bekerja beneran di proyek menggunakan Sublime Text selama 2 1/2 bulan saya belum bisa menggunakannya secara maksimal, masih sebatas yang penting pekerjaan kelar dulu, hmmm.

At least, saat ini saya sudah bisa bekerja dengan hanya bermodal text editor dan terminal, horreeeee.

Memang jika dilihat dari berbagai screencast yang menggunakan Sublime Text, tools ini bisa digunakan dengan hebat terutama pada saat editing source code. Saya positive thinking saja butuh waktu dan belajar menggunakannya dan juga eksplorasi plugin 🙂

Sekarang pembahasannya lompat ke Vim yuk.

Saya lupa pertama kali tau apa itu Vim. Yang saya ingat, saya terus menerus melihat status facebook dari seseorang yang merupakan pengguna Vim, semacam dibombardir. Tapi tetep, saya belum mau belajar Vim karena sudah tahu itu susah. Pakai Sublime Text saja masih polos, pakai Vim mau jadi apa.

Ngomong-ngomong soal bombardir ini ternyata memang sudah jadi lelucon umum di dunia pemrograman bahwa seseorang yang menggunakan Vim akan selalu membicarakan Vim, lebih tepatnya membanggakan Vim sekaligus pamer bahwa dia bisa menggunakan Vim hahaa.

Lelucon semacam ini saya ketahui dari akun Twitter @iamdevloper.

Bisa jadi lelucon semacam ini justru masuk ke pikiran saya secara sembunyi-sembunyi untuk kemudian mempengaruhi diri saya dari dalam agar mau mencoba belajar Vim.

Hantaman berikutnya adalah ketika di kantor yang baru saya mendapatkan seorang mentor yang kebetulan (kebetulan atau bukan kebetulan?) menggunakan Vim sebagai text editornya. Dengan santai saya bertanya kepadanya.

Saya : Mas ga susah pakai Vim?.
Si Mas : Ah enggak, udah biasa
Saya : Masa sih ga susah?, itu item semua gitu dan gak bisa pakai keyboard
Si Mas : hahaha *cuma ketawa

Tapi serius lho kalau melihat dia bekerja seperti tidak ada susah-susahnya. Saya juga mengintip beberapa rekan yang juga menggunakan Vim dan memang terlihat tidak susah. Sepengetahuan saya ada 4 orang di kantor yang menggunakan Vim, termasuk salah satu diantaranya CTO.

Pengaruh juga datang dari gorails.com dimana si Oliver termasuk pengguna Vim.

Okelah fine, saya coba untuk belajar Vim. Akhirnya.

Karena saya merasa belajar Vim untuk masa awal akan lebih gampang jika menggunakan sarana video maka saya mencari tutorial Vim di youtube dan dapatlah saya seri tutorial belajar Vim di playlist ini.

Video pertama soal instalasi, ah membosankan tetapi saya tonton sampai tuntas untuk memastikan tidak ada informasi penting yang terlewatkan.

Video kedua, ketiga dan seterusnya sudah berisi command dan keyboard shortcut yang harus dihapal jika memang mau bisa Vim. Sambil nonton videonya sambil saya ngetik dokumen asal-asalan di Vim mempraktikkan command dan shortcut sesuai pembahasan materi.

vim rails

Apakah susah?, jelas wkwk.

Butuh beberapa waktu sampai saya berani menggunakan Vim di kerjaan beneran.

Btw, kalau baru belajar Vim saya merekomendasikan untuk belajar dari video tadi juga. Materinya enak diikuti dan trik-trik yang diajarkan cukup banyak, secukup memberi bekal untuk bisa nulis dan menyimpan berkas di Vim.

Kembali ke penggunaan Vim di pekerjaan. Saya pernah mengikuti sebuah diskusi soal proses belajar Vim, bahwa karena memang proses belajarnya yang sulit, learning curve-nya yang tinggi, maka tidak disarankan untuk belajar Vim langsung dengan mengerjakan pekerjaan sungguhan. Di sarankan untuk mencoba-cobanya terlebih dahulu di waktu yang terpisah misal di waktu akhir pekan. Begitu sudah merasa PD, bolehlah mulai masuk di pekerjaan nyata.

Yang cukup merepotkan adalah, Vim ini dasarnya adalah sebuah text editor yang masih butuh polesan sana dan sini dengan bantuan plugin untuk bisa benar-benar menjadi tools yang powerful. Untuk plugin apa saja yang saya gunakan dan apa kegunaannya akan saya tulis pada tulisan terpisah saja.

Singkat kata mulai hari Senin minggu kemarin saya sudah menggunakan Vim untuk pekerjaan di kantor. Hasilnya adalah?, susah minta ampuuuun. Pekerjaan saya menjadi melambat karena masih belum jago.

Paling sering yang membuat susah adalah masalah navigasi, tidak bisa menggunak mouse man!. Sering banget yang namanya salah pencet tombol daaan masih lama mikir mau mencet tombol mana kalau yang diinginkan adalah seperti ini, kalau yang diinginkan adalah seperti itu.

Untuk pekerjaan yang butuh diselesaikan dengan cepat, misal bugfix maka saya balik sementara ke Sublime Text :p

Apakah kapok?, tidak.
Saya masih akan terus belajar menggunakan Vim 🙂

Yuk tinggalkan komentar supaya kita bisa berdiskusi bersama tentang Vim, baik ngobrol proses belajarnya ataupun berbagi tips dan trik yang cool di Vim.

PS

Saya menulis ebook Vim untuk Semua yang saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri belajar Vim dengan cara yang paling efektif. Dengan buku ini kamu belajarnya lebih terarah, tidak perlu sesusah payah saya saat belajar dulu.

Lagi diskon lho 🙂

Facebook Comments
 

Agung Setiawan

Agung Setiawan adalah software engineer di BukaLapak.com, penulis sekaligus pecinta sastra, dan pembaca buku

 
Halo, perkenalkan saya Agung Setiawan.
Saya Software Engineer di BukaLapak.
Simak pemikian saya soal dunia Software Engineering via Twitter di @agungsetiawanmu dan facebook
Blog ini saya update seminggu sekali jadi sering-sering saja mampir
Mau belajar Vim bareng saya?
Belajar ngoding dari nol menggunakan PHP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *