Beli Nintendo Switch di Masa Pandemi Covid-19

Betul, harga Nintendo Switch saat tulisan ini saya rangkai sambil minum kopi memang sedang naik tinggi. Naiknya ga kira-kira dan untuk beberapa orang termasuk saya, kenaikan harganya ini bisa dikategorikan tidak make sense, maksudnya tidak make sense untuk dompet hahaha. Beda cerita kalau buat sultan ya.

Terlepas dari harga yang sedang naik, toh pada akhirnya saya beli juga. Pertanyaannya kenapa saya beli sekarang? Jangan-jangan saya sultan? Atau gimana ya? Simak terus ceritanya.

Awal Mulanya

Sejak pandemi mulai diperhitungkan di Indonesia (ya, negara sempat denial dan tidak melakukan antisipasi atau langkah apapun),anjuran untuk tetap di rumah saja mulai digemborkan dan tempat saya bekerja memberlakukan WFH/kerja dari rumah. Jadilah sejak tengah Maret itu saya di rumah saja. Yang biasanya akhir pekan jalan-jalan bareng keluarga untuk refreshing jadi diganti dengan hiburan di rumah.

Bosan? Pasti
Cari hiburan yang bisa dilakukan dari dalam rumah? Harus

Salah dua efek langsung dari WFH adalah tidak adanya waktu yang terpakai untuk tranportasi dan badan tidak mengeluarkan tenaga untuk naik kendaraan. Kedua gabungan ini menghasilkan keleluasaan baru yang membangkitkan kembali hobi saya untuk main game.

Untuk urusan gaming saya sudah ada console PlayStation 4 yang saya beli dari tahun 2016 di jaman kalau beli sesuatu langsung saja sikat tidak seperti sekarang yang harus nyari info sana-sini dan bolak-balik nonton review barang di YouTube, pertimbangannya banyak (atau terlalu banyak?). Yeah, my life definitely a lot simpler back then. 

Ada satu teman saya, sebut saja namanya Deni yang merasakan kebosanan yang sama, ditambah dia belum lama nikah tapi harus LDR *eaaaa. Saya lupa berawal dari mana, yang saya ingat adalah dia bilang tertarik untuk beli Nintendo Switch dan sudah mendapatkan restu dari sang istri. Satu-satunya yang menghalangi niatan tersebut adalah harga console hybrid yang sedang naik.

Sebagai orang yang sejak awal perilisannya di tahun 2017 pun tidak tertarik, keadaan Deni itu saya jadikan bahan ejekan hahaha. “Harga console kok naiknya gak masuk akal”, kurang lebih begitulah mocking yang saya lakukan menyikapi fenomena harga Switch yang tinggi semenjak masa pandemi. Semakin dia menge-share kalau harga Switch semakin tinggi, semakin girang saya untuk mocking 🤣

Mungkin karena saya ngejek Switch dan orang bilang kalau suka ngejek ~= benci itu pada makna lainnya adalah care, perlahan malah saya suka nyari-nyari info tentangnya. Dari buka YouTube sekadar lihat review sampai mencari list game-game yang wajib dimainkan di console besutan perusahaan yang berpusat di Kyoto ini.

Saya rasa trigger puncaknya adalah ketika saya menyimak pembahasan retro gaming hasil kolaborasi antara The Lazy Monday dan Republik Sultan yang dari situ saya jadi sedikit lebih tahu sejarah dari Nintendo. Intinya Nintendo itu perusahaan hebat yang di masa industri gaming di Amerika sedang crash justru mereka berhasil jaya dan mengembalikan gairah dunia permainan virtual.

Selain itu kesimpulan yang saya dapat adalah Nintendo ini seperti ga peduli dengan arah yang dituju oleh dua perusahaan saingannya, Sony dan Microsoft dengan console-nya masing-masing yaitu PlayStation 4 dan Xbox One. Di saat keduanya mengarah ke kualitas grafis yang semakin mendekati realitas, Switch justru hadir dengan computing power yang jelas-jelas di bawah keduanya dan kebanyakan game Nintendo itu terkesan anak-anak dilihat dari style grafis dan gameplay-nya. Ternyata memang arah itu yang sengaja dituju oleh Nintendo, family gaming.

Salah satu pelajaran yang saya dapat dari TLM dan Repsul adalah dari dulu hardware milik Nintendo memang di bawah pesaingnya. Strategi mereka memang beda aja gitu dan terbukti survive sampai sekarang. Di jaman console wars antara Nintendo vs Sega, seingat saya hardware-nya selalu lebih bagus punya Sega. Tapi sekarang Sega udah angkat tangan kan dan Nintendo masih lanjut.

Dari situ saya jadi kagum banget sih dengan Nintendo. Jadi ingat juga kalau saya dulu kecilnya pernah punya NES/Nintendo Entertainment System yang dikasih oleh teman ayah saya. Gabungan keduanya cukup menggerakkan emosi saya untuk memiliki produk Nintendo terkini dan bergabung turut serta menjadi bagian dari sejarah, ya walau pun peran remah-remah roti.

Oke, tapi kan balik lagi masalahnya sama dengan Deni. Harganya sedang tinggi dan tidak tahu kapan akan kembali normal. Haruskah menunggu ketidakpastian? Atau langsung hajar sajakah?

Sebuah Alasan

Cerita saya akan berhenti di sini dan semua yang sudah saya utarakan di atas menjadi tidak menarik kalau saya tulis : “Ya, saya memang sultan”.

Yang saya pertimbangkan saat itu setelah dipikir-pikir adalah opportunity cost yang harus saya bayar kalau belinya nanti-nanti. Ada kalanya dalam hidup ini mending bayar duit lebih mahal dari pada hilang kesempatan. Di titik memutuskan beli Switch secepatnya atau nanti itulah saya merasa aturan itu berlaku.

Ya pakai feeling aja sih. Feeling saya waktu itu kalau belinya ditunda-tunda nanti hype untuk nge-game-nya jadi hilang dan ga jadi beli. Kalau ga jadi beli dan udah ga suka nge-game terus hiburannya apa? Kalau ga ada hiburan nanti setres. Kalau setres nanti depresi dan semuanya susah. Saya pernah depresi jadi tahu banget keluar duit segitu okelah dibanding kena depresi.

Saya merasa perlu sekali untuk me-maintain gairah saya di dunia game. Karena apa? karena setelah melalui beberapa kali perputaran, gaming dan knowledge seputar dunia game seperti misalnya mempelajari sejarah console, menjadi kolektor kecil-kecilan, adalah hobi yang sejatinya benar-benar menyenangkan bagi saya, semacam tempat untuk kembali. Melihat riwayat saya tahun lalu dan kondisi saat ini yang jujur saja sedang muak dengan dunia IT dan komunitasnya, mempunyai tempat untuk bernaung secara jiwa merupakan hal yang teramat penting. Bosen nge-game jelas ada, makanya hal itu yang perlu di-manage biar tidak bosan.

Mungkin pertimbangan saya terkesan hanya sebuah justifikasi gitu ya, sebuah pembenaran untuk membeli gaming console hahaha, ya gak apa-apa orang bebas menilai.

Beli yang Mana

Pilihan gampang kalau yang ini. Saat ini untuk Switch ada 3 varian : Switch V1, Switch V2 dan Switch Lite. Lite sudah jelas out of option karena hanya bisa dimainkan secara handheld. V1 dan V2 mikir sepersekian detik juga sudah bisa diputuskan ambil yang V2 karena merupakan perbaikan dari V1 terutama dari sisi ketahanan baterai.

Oh bisa dibilang ada satu variasi lagi yaitu special edition. Yhaa kalau ini sudah jelas ga kepikiran, mahal minta ampun bos. Setelah itu tinggal pilihan warna. Yang warna grey bagus dan terkesan laki banget tapi saya lebih memilih warna neon red dan neon blue karena lebih ikonik.

Saat beli Switch saya sekaligus beli satu judul game dan juga “paket perawatan Switch” yang isinya tas, anti gores, case, thumb stick, dan kabel USB C.

Impresi

MENYESAL

Menyesal kenapa tidak beli dari dulu 😄

Salah satu ukuran bahwa saya sudah membeli barang yang tepat adalah adanya sedikit perasaan “kenapa ga beli dari dulu ya?”. Asli, seandainya saya beli Switch tahun lalu maka cerita depresi saya pasti akan berbeda dan mungkin lebih baik dari cerita tahun lalu, ya kan ga ada yang tahu, tapi namanya kemungkinan selalu ada.

Meskipun Switch bisa dimainkan lewat layar lebar TV tapi saya jauh lebih sering memainkannya secara handheld. Justru mode ini alasan saya beli, bisa dimainkan di mana saja. Ini adalah nilai sangat plus dari saya untuk Switch. Kesibukan orang kan beda-beda ya, nah bisa main di mana saja itu cocok dengan kesibukan saya yang tidak selalu bisa memainkan game lewat TV.

Untuk urusan grafis saya ga begitu menaruh penilaian, sudah berekspektasi kualitasnya ya beda dengan Ps4 apalagi PC. Tahu dirilah kalau beli Switch kok ngarep grafis 😛

Yang penting buat saya main di Switch adalah portabilitasnya dan game-game eksklusif ala Nintendo yang fun dan unik gimana gitu.

Game yang Dimainkan

Saat ini saya sedang memainkan game yang katanya wajib banget kalau punya Switch, Zelda : Breath of The Wild. Selain itu baru minggu kemarin saya beli The Witcher 3 Complete Edition dan sekarang sedang main itu juga. Jadi saya mainnya bareng gitu, ga nunggu satu tamat dulu baru main yang lain. Lebih asik gini sih karena kalau sedang jenuh main yang satu ya main yang lainnya dulu. Kalau lagi jenuh main keduanya ya main PlayStation4 game yang lain.

Ada satu lagi game yang saya beli sengaja biar bisa main bareng istri, Just Dance 2020. Asik banget gerak-gerak nge-dance membebaskan ekspreksi sekaligus olahraga dan seru-seruan bareng keluarga tercinta.

Selanjutnya saya ingin beli game JRPG Octopath Traveler atau kalau tidak ya Pokemon Sword, seumur-umur saya belum pernah memainkan genre JRPG dan Pokemon series pun tidak pernah nyentuh. Masih agak lama tapi paling karena barusan saja game The Last of Us 2 rilis dan saya mainkan, selain itu bulan depan Ghost of Tsushima juga rilis, jadi dicukupkan dulu backlog game-nya, anak juga mau imunisasi hehe.

Facebook Comments
 

Agung Setiawan

Agung Setiawan adalah software engineer di BukaLapak.com, penulis sekaligus pecinta sastra, dan pembaca buku

 
Halo, perkenalkan saya Agung Setiawan.
Seorang Software Engineer di BukaLapak, penulis buku, blogger, gunpla builder, tech educator.
Simak pemikiran saya soal dunia Software Engineering via Twitter di @agungsetiawanmu dan facebook
Mau belajar Vim bareng saya?
Belajar ngoding dari nol menggunakan PHP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *