Tentang “kalau bisa yang Bahasa Indonesia dong”

Masih sering kita jumpai di forum-forum pemrograman berbahasa Indonesia, muncul pertanyaan-pertanyaan yang berembel-embel “nasionalisme”. Pertanyaan-pertanyaan yang mengandung kalimat berpola “kalau bisa yang bahasa Indonesia dong” adalah yang saya maksud.

Mari kita lihat bagaimana pertanyaan semacam ini bisa muncul, masih muncul dan besar kemungkinan akan tetap muncul.

Menurut pendapat saya ada 2 alasan kenapa pertanyaan berembel-embel “yang bahasa Indonesia ya” masing sering dijumpai di forum diskusi online.

1. Si penanya tidak mengerti bahasa Inggris
2. Kurangnya sumber pengetahuan yang cukup yang tersedia dalam bahasa Indonesia

Tidak Mengerti Bahasa Inggris

Biasanya ketika ada pertanyaan seperti itu muncul maka respon yang paling sering diberikan adalah pemberian nasihat kalau tidak malah pemberian bully kepada penanya untuk mencari sumber pengetahuan menggunakan bahasa Inggris.

“tutorial gitu kebanyakan bahasa Inggris gan, sekalian belajar bahasa Inggris aja”

“ya elah carinya yang bahasa Indonesia ya ga ada. Kalau mau bisa survive di dunia pemrogaman lu mesti bisa bahasa Inggris kalau enggak mampus aja, jadi tukang [profesi] aja sana”

Memang diakui sumber pengetahuan terkait pemrograman komputer yang ada paling banyak tersedia dalam bahasa Inggris. Wajar, karena bahasa ini merupakan bahasa internasional. Dengan menulis buku atau artikel di blog dalam bahasa inggris tentunya pasar yang dijangkau akan menjadi lebih besar berkali-kali lipat dibandingkan jika menulisnya dengan menggunakan bahasa lokal. Perumpamaan paling gampang sih gini, blog saya ini jauh akan lebih banyak pengunjungnya jika saya menulisnya menggunakan Bahasa Indonesia dibandingkan kalau saya pakai Bahasa Jawa, iyo ora?, yo mesti iyo to.

Dan saya juga sepakat jika ingin belajar pemrograman lebih lanjut dan lebih jauh memang bahasa Inggris harus dikuasai, minimal bahasa Inggris pasif. Bahasa inggris pasif adalah kita bisa membaca dan tahu arti dari apa yang dibaca dan bisa mendengar serta tahu arti dari apa yang diucapkan orang lain.

Dengan begitu kita semua setuju bahwa alasan untuk nomor 1 maka solusinya adalah kita harus mau belajar bahasa Inggris demi bisa menggali informasi yang tersebar di internet yang mana mayoritas memang disampaikan dalam bahasa tersebut. Opsi ini adalah sebuah keharusan, mau atau tidak mau.

Minim Sumber Berbahasa Indonesia

Nah ini untuk alasan nomor 2 lebih menarik karena kita tidak bisa “menyalahkan” si penanya. Kalaupun mau “menyalahakan”, maka akan ada banyak orang yang kena.

Kurangnya informasi seputar dunia pemrograman komputer dalam bahasa Indonesia bisa dipastikan karena masih kurangnya jumlah developer yang mau meluangkan waktunya untuk berbagi ilmu dan pengalaman yang dimiliki dalam bentuk tulisan di blog maupun menulis ebook atau pun buku.

Perlu kita ketahui bersama bahwa blog dan buku yang kita tulis sebenarnya merupakan bagian dari mesin penggerak komunitas untuk memajukan dunia IT. Melalui link yang disebar atau pun melalui hasil pencarian di google, orang akan bisa menjangkau pengetahuan yang sudah kita sumbangkan, orang tersebut kemudian mendapatkan sebuah ilmu baru berkat tulisan kita.

Di sini tokoh utamanya adalah kita. Bukan Presiden, bukan menristek, bukan dosen, bukan juga CEO perusahaan IT.

Coba ingat-ingat ketika kita mengalami kesulitan kemudian googling untuk mencari petunjuk maka hal yang kita cari itu bisa kita temukan di stackoverflow dan blog seseorang. Entah itu blog milik siapa asal isinya bagus dan sesuai dengan yang kita butuhkan maka kita akan berterimakasih kepada penulisnya secara tidak langsung karena sudah membantu kita.

Sekarang coba apa jadinya kalau tidak ada orang yang menulis tutorial bermanfaat di blog?, kita akan susah untuk mencari solusi dari masalah koding yang kita hadapi. Mungkin kita akan pergi ke perpustakaan daerah untuk mencari buku yang berkaitan, itupun kalau bukunya ada dan itupun akan memakan waktu yang jauh lebih lama.

Coba main ke toko buku gramedia dan tengoklah rak bagian komputer terkhusus tentang pemrograman maka yang didapat tidaklah memuaskan. Isinya sebagian besar berisi buku yang mengajarkan kita membuat aplikasi x tetapi bukunya sendiri lebih mirip dengan kopas source code ke dalam buku. Sangat jarang buku yang membahas suatu bahasa x dari dasar hingga menengah. Jika ada itupun hanya untuk bahasa yang pasaran di sini seperti PHP dan Java, yang ingin belajar Ruby, Haskell, Go pasti gigit jari.

Banyak sekali orang jago IT di negara ini tetapi masih sedikit yang menulis blog. Rasanya sayang kalau kehebatannya itu tidak disalurkan ke yang lain. Terutama sekali yang berkaitan dengan pengalaman manajemen dan soft skill sebagai seorang software engineer, akan sangat mengasyikkan bisa membaca topik-topik tersebut dan hal non teknis lainnya, pasti ada poin-poin yang bisa dicatat buat langkah ke depan bagi pembacanya.

Rasanya bolehlah dibuat survei untuk mengukur ada berapa persen developer yang memiliki sebuah blog yang diisi rutin dalam suatu negara. Saya ingin tahu data yang ada untuk Amerika Serikat, India, Jepang dan Indonesia.

Facebook Comments
 

Agung Setiawan

Agung Setiawan adalah software engineer di BukaLapak.com, penulis sekaligus pecinta sastra, dan pembaca buku

 
Halo, perkenalkan saya Agung Setiawan.
Saya Software Engineer di BukaLapak.
Simak pemikian saya soal dunia Software Engineering via Twitter di @agungsetiawanmu dan facebook
Blog ini saya update seminggu sekali jadi sering-sering saja mampir
Mau belajar Vim bareng saya?
Belajar ngoding dari nol menggunakan PHP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *