Dalam Proses Belajar Vim, Bagian 2

Satu kata untuk Vim, susah.
Satu kata untuk bisa menggunakan Vim, sabarlah.

Selepas menuliskan pengalaman belajar Vim di tulisan Dalam Proses Belajar Vim, rasanya saya justru benar-benar berhenti menggunakan Vim. Tampak sebagai ironi ya? hahaa ya begitulah.

Alasan kenapa saya berhenti belajar menggunakan Vim pada waktu itu sangat jelas, saya benar-benar merasa kesulitan menggunakan Vim terutama sekali pada bagian navigasi. Hal ini juga saya singgung pada tulisan saya yang terdahulu.

Pekerjaan tentunya menjadi prioritas utama dibandingkan dengan belajar Vim, maka daripada kerjaan saya menjadi lambat karena masih belajar menggunakan Vim lebih baik saya menggunakan editor yang biasa saya gunakan. Jadilah saya benar-benar tidak belajar Vim lagi karena di waktu senggang seperti misalnya libur akhir pekan, waktu yang saya punya saya gunakan untuk membaca buku atau sekadar bersantai jalan-jalan untuk refreshing, bukan untuk belajar Vim 😛

Pada waktu itu jika ada yang menanyakan kabar tentang progress belajar vim yang saya alamai maka niscaya akan saya jawab dengan cukup satu kata : bubar atau dengan diksi yang lain : ambyar

Beberapa perintah dasar seperti shift+o (insert mode ke baris baru di atas baris sekarang) lupa dan yang lebih parah saya lupa dengan isi konfigurasi dari file .vimrc yang saya racik sendiri. Ini plugin buat apa dan ini setting buat apa. Intinya memang benar-benar bubar, porak poranda kalau pakai bahasa yang sastrawi.

Comeback is Real

Percayalah saya bukan pemain dota, bahkan sama sekali tidak bisa memainkannya. Saya hanya meminjam judul di sini.

Semangat itu, semangat untuk belajar Vim, yang sudah porak poranda dihantam badai alotnya navigasi mulai muncul kembali setelah adanya sedikit gambaran dari Mas Rahmat melalui postingannya di facebook yang berisi tips dan trik seputar navigasi di Vim. Sebelumnya, saya meminta Mas Rahmat untuk berbagi tips perihal navigasi di Vim, dan jadilah postingan di facebook tersebut.

Dari situ saya mencari informasi lanjutan dan didapatlah tulisan ini. Oke satu langkah ke depan lagi 😀

Dan pada akhirnya momen eureka itu, momen yang sangat mencerahkan, yang bisa disejajarkan dengan abad pencerahan yang terjadi di Eropa pada abad 18, terjadi ketika saya menyimak dengan khidmat screencast yang dibuat oleh Jeffrey Way di laracasts.

Berbeda dengan screencast yang saya sebutkan pada tulisan bagian pertama, screencast yang ini berisi penggunaan Vim yang memang khusus ditujukan untuk kepentingan pengembangan software. Tentu beda sekali dengan yang sebelumnya di mana di situ hanya (sebenarnya bukan hanya tapi “hanya”, tahu kan maksudnya?) dibahas penggunaan dasar Vim sebagai text editor yang artinya membahas cara bagaimana menulis, menghapus, edit, seleksi dan lain sebagainya.

Dari tutorial ini saya jadi tahu kalau Vim bisa dikustomisasi seenak jidat kita, pokoknya jadi fleksibel minta ampun. Rasanya saya pernah mendengar bahwa Vim adalah text editor yang benar-benar milik kita, dalam bahasa Inggirs adalah Vim is your own text editor, ya pantas saja ada ungkapan seperti itu karena kita bisa mengutak-atik Vim sekehandak mau kita.

Bagian paling berkesan bagi saya adalah mengetahui bahwa kita bisa mengubah mapping yang diberikan oleh Vim menjadi mapping yang kita inginkan sendiri.

Misalnya seperti ini, untuk berpindah dari satu window ke window lainnya maka digunakan kombinasi tombol berikut ini.

Bukankah akan menjadi lebih gampang kalau kita mengubahnya menjadi seperti ini?

Tentu saja!
Dan Vim memang dibuat untuk kepentingan seperti itu. Dengan menggunakan perintah nmap pada file .vimrc maka kita bisa mengubah perintah di atas menjadi seperti yang kita inginkan seperti ini.

Satu contoh lagi ya!
Untuk mengubah konfigurasi dari Vim kita maka perlu membuat penyesuain di file .vimrc. Untuk membuka file ini digunakan perintah :e $MYVIMRC. Tentunya bisa dong dibuat lebih mudah, Vim gitu loh, bisa?, bisa!

Artinya adalah pada mode normal, ketika kita menekan tombol c sebanyak 2x secara berutut-turut maka perintah :e $MYVIMRC yang diikuti enter akan dijalankan. Wuuenaaak tooo?

Pokoknya saya sangat merekomendasikan pembaca untuk meluangkan waktunya digunakan untuk bertapa menonton screencast Jeffrey dengan khidmat karena akan banyak menguak sisi gelap Vim yang sangat luar biasa.

Mau nge-Vim?, Pakai Sistem 10 Jari Bro

Satu hal yang saya sadari saat kembali belajar nge-Vim adalah betapa kacaunya cara mengetik saya. Selama ini cara mengetik saya asal-asalan, tidak menggunakan sistem 10 jari dangan sangat melelahkan. Bagi beberapa orang memang tidak menggunakan 10 jari tapi masih bisa mengetik dengan cakap. Kalau saya lain, sudah tidak mengikuti kaidah 10 jari, tapi gayanya juga kacau makanya kemarin pas belajar Vim juga susah karena seperti diketahui kalau Vim ini kan tujuannya supaya tangan kita memang benar-benar nempel di keyboard, tidak lari ke mouse ataupun touchpad.

Artinya adalah jemari kita memang harus benar-benar nyaman untuk selalu berdiam diri di atas keyboard. Dan salah satu cara nyaman yang saya ketahui adalah dengan menggunakan sistem 10 jari!

Maka mulai dari minggu lalu saya fix belajar untuk menggunakan sistem 10 jari. Dimulai dari latihan di http://keybr.com/ sambil dipraktikkan secara langsung setiap saya mengetik apapun, baik ngoding kerjaan, nulis chat, nulis status dan tentunya juga saat menulis tulisan ini saya sudah sepenuhnya menggunakan 10 jari yang bergerak sesuai dengan tugasnya masing-masing 😉

Penutup

Singkat kata sekarang saya sudah jauh lebih bisa menggunakan Vim daripada percobaan saya yang pertama. Hal ini saya kira utamanya karena sudah semakin mengetahui trik-trik yang bisa diterapkan di Vim dan tidak ketinggalan penting karena sudah menerapkan sistem 10 jari dalam mengetik. Rasanya proses kali ini tidak akan selancar seperti yang saya rasakan jika saya masih mengetik menggunakan sistem yang saya temukan sendiri : sistem amburadul.

Tulisan selanjutnya tentang Vim Insya Allah akan membahas konfigurasi .vimrc yang saya gunakan atau tentang tips seputar penggunaan Vim itu sendiri, misalnya untuk menangani navigasi.

Facebook Comments
 

Agung Setiawan

Agung Setiawan adalah software engineer di BukaLapak.com, penulis sekaligus pecinta sastra, dan pembaca buku

 
Halo, perkenalkan saya Agung Setiawan.
Saya Software Engineer di BukaLapak.
Simak pemikian saya soal dunia Software Engineering via Twitter di @agungsetiawanmu dan facebook
Blog ini saya update seminggu sekali jadi sering-sering saja mampir
Mau belajar Vim bareng saya?
Belajar ngoding dari nol menggunakan PHP

One thought on “Dalam Proses Belajar Vim, Bagian 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *